News and Education Versi penuh
Edukasi

Festival Kopi Forest Programme IV, Petani Didorong Tingkatkan Kualitas dan Perluas Pasar

Oleh Redaksi 21 Oct 2026 15:32 4 menit baca

JALURDUA - Klikhijau.com - Peningkatan kualitas kopi, akses pembiayaan, dan perluasan pasar menjadi pembicaraan penting dalam Festival Kopi ForestProgramme IV yang berlangsung di Grand Mall Maros, pada Selasa (20/10/2026).

Pada hari kedua, kegiatan ini diisi dengan dua sesi talkshow dan diskusi, uji fisik, dan rasa kopi, dan pembagian doorprize kepada peserta.

Kegiatan ini menghadirkan dan mempertemukan petani, kelompok tani hutan (KTH) Mamasa dan Pinrang, pelaku usaha, dan berbagai pihak yang terlibat dalam pengembangan ekosistem usaha kopi.

Melalui kegiatan ini, petani didorong untuk memahami bahwa kualitas produk perlu diimbangi dengan kemampuan mengakses pasar dan membangun kerja sama dan kemitraan bisnis.

Pembiayaan dan teknologi untuk petani

Talkshow pertama menghadirkan dua narasumebr, yaitu  Damayanti dari Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) dan Suryono dari Koperasi Kopi Alam Kerinci (Alko)

Dalam pemaparannya, Damayanti menjelaskan fasilitas pembiayaan yang dapat diakses petani, khususnya mereka yang menerapkan sistem agroforestri. Skema ini mendukung pengembangan usaha sekaligus mendorong pelestarian hutan dan lahan.`       

Ia menjelaskan, pembiayaan tersebut dapat digunakan untuk kegiatan produktif, seperti pemeliharaan tanaman dan penanaman. Petani juga perlu memenuhi sejumlah persyaratan, termasuk memiliki rencana usaha dan kemampuan membayar pinjaman.

Sementara itu, Suryono berbagi pengalaman tentang pentingnya keterbukaan informasi dan pemandaatan teknologi untuk memperluas pasar kopi. Menurutnya, petani perlu mengetahui nilai produk yang mereka hasilkan agar tidak hanya bergantung pada harga yang ditentukan pembeli.

Ia mengungkapkan pengalamannya ketika melihat petani masih menunggu pembeli datang untuk mengetahui harga kopi hasil panen mereka.

“Karena, sebagi produser kopi, kok gak tau menentukan harga kopi produknya?” ujar Suryono

Melalui pengalaman itu, ia mendorong pemanfaatan teknologi blockchain ( QThinkX) untuk menelusuri asal usul kopi, mulai dari proses produksi hingga pemasaran. Teknologi ini diharapkan membantu membangun kepercayaan pembeli sekaligus memperkuat identitas kopi lokal.

Uji Fisik dan Rasa Kopi

Setelah sesi talkshow pertama selesai, peserta mengikuti kegiatan pengujian kualitas fisik dan rasa kopi dari 21 kelompok tani yang ada

Pada pengujian fisik, biji kopi diperiksa berdasarkan beberapa karakteristik, seperti kadar air, jumlah biji yang cacat, ukuran, warna, dan bau. Penilaian tersebut membantu petani memmahami grade/mutu kopi yang ia hasilkan serta kaitannya dengan penentuan harga.

Peserta juga berkesempatan mempelajari proses penilaian secara langsung. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kompetensi, tetapi juga memberikan pengetahuan praktis mengenai standar kualitas biji kopi.

Pengujian kemudian dilanjutkan dengan penilaian rasa atau cuppingtest. Dalam prose ini, kopi dinilai berdasarkan aroma, karakter rasa, tingkat keasaman dan keseimbangan rasa.

Kedua pengujian tersebut menegaskan bahwa kualitas kopi tidak cukup dinilai dari  penampilan bijinya. Karakter rasa dan konsistensi produk juga menjadi pertimbangan penting dalam memenuhi kebutuhan pasar dan gointernaisonal.

Disela –sela kegiatan, peserta juga mengikuti pembagian doorprize yang menambah semarak suasana festival.

Kolaborasi dan strategi menghadapi tengkulak

Talkshow kedua mengangkat tema petani kopi menuju pasar global dan menghadirkan empat narasumber. Di awal acara, Anis Kurniawan, Direktur klikhijau selaku moderator pada sesi ini menyarangkan tema diskusi kali ini mungkin akan lebih cocok jika ditambahkan satu kata lagi, yakni “Sanggupkah petani kopi menuju pasar global” ucap  Anis.

Diskusi ini berfokus pada penguatan kelembagaan, pengembangan usaha, pemenuhan standar pasar, serta strategi membangun kemitraan dengan pelaku perdagangan kopi.

Salah satu pembahasan yang menarik perhatian adalah posisi tengkulak dalam rantai perdagangan kopi. Hongli Fernando dari Alko menjelaskan bahwa memperpendek rantai pasok tidak selalu berarti menghilangkan seluruh perantara.

“Kalau urusannya  adalah bagaiman kita membuang kolektor (tengkulak) di tingkat tapak, maka rantai suplai itu tidak pernah akan lengkap,” jelasnya.

Menurut Hongli, kolektor  atau tengkulak dapat menjadi mitra strategis apabila  mampu menghubungkan petani dengan pembeli. Tantangannya adalah membangun hubungan yang memberikan manfaat bagi seluruh pihak.

Ia juga menekankan pentingnya kerja sama antarkelompok petani untuk memenuhi kebutuhan pasar. Penggabungan produksi dapat membantu menyediakan kopi dalam jumlah yang lebih memadai sehingga peluang transaksi dengan pembeli menjadi lebih besar.

Sementara itu, Galigo Putra dari Agrora Kerinci membagikan pengalamannya menjalin kemitraan hingga mampu menembus pasar ekspor. Ia menilai petani tidak harus mengerjakan seluruh proses bisnis  seorang diri.

“Jadi kalau kita petani, kalau kita berpikir bahwa kita harus mengerjakan semua, ya sulit, tetapi kita punya kekuatan untuk  berkolaborasi dengan banyak pihak,” urainya.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa jaringan dan kemitraan memiliki peran penting dalam membuka akses pasar. Petani juga perlu memiliki alternatif pembeli agar posisi tawar mereka semakin kuat.

Melalui rangkaian kegiatan hari kedua ini, Festival Kopi Forest Programme IV menyoroti pentingnya menghubungkan peningkatan kualitas produksi dengan penguatan usaha dan pemasaran. Kolaborasi, pemanfatan teknologi, serta  kemampuan memahami kebutuhan pasar menjadi bekal bagi petani untuk mengembangkan kopi lokal secara berkelanjutan.