Festival Pinisi: Merayakan Kapal, Merawat Pengetahuan, Memberi Ruang bagi Para Panrita

Festival Pinisi: Merayakan Kapal, Merawat Pengetahuan, Memberi Ruang bagi Para Panrita
Bacakan Artikel

Jalurdua.com Klikhijau.com - Jangan sampai kita begitu sibuk merayakan Pinisi sebagai kebanggaan Bulukumba, tetapi lupa memastikan pengetahuan yang melahirkannya tetap hidup.

Pinisi bukan sekadar kapal kayu yang gagah ketika membelah lautan. Ia adalah warisan pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan kearifan yang tumbuh melalui perjalanan panjang masyarakat pesisir, khususnya para panrita lopi di Bulukumba. Di balik bentuknya yang megah, ada tangan-tangan terampil, ketekunan, dan pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itu, ketika Festival Pinisi kembali diselenggarakan, ada satu pertanyaan yang menurut saya layak kita renungkan bersama: sudahkah festival ini benar-benar menjadi ruang untuk merawat kebudayaan, atau masih lebih banyak menjadi ruang untuk merayakan simbol kebudayaan?

Pertanyaan ini bukan untuk meniadakan nilai anyyorong lopi, yakni prosesi penurunan kapal ke laut, yang selama ini menjadi salah satu agenda penting dalam perayaan Pinisi. Prosesi tersebut memiliki makna tersendiri dan patut dihargai sebagai bagian dari tradisi. Namun, jika Festival Pinisi terus berpusat pada agenda yang sama dari tahun ke tahun, bukankah ada peluang yang lebih besar untuk memperluas makna perayaan ini?

Sebab, Pinisi tidak lahir hanya pada saat sebuah kapal diturunkan ke laut. Jauh sebelum momen itu, ada proses panjang yang patut dikenali dan dipahami: mulai dari pemilihan pohon dan pengetahuan tentang kayu, proses pengolahan bahan, teknik menyusun bagian-bagian kapal, hingga keterampilan dan pengalaman yang membuat sebuah kapal dapat terwujud. Di dalam proses tersebut, terdapat pengetahuan yang tidak selalu bisa dijelaskan melalui tulisan, tetapi hidup dalam praktik dan pengalaman para panrita.

Lantas, mengapa proses panjang itu belum menjadi bagian yang lebih menonjol dalam pengalaman publik saat menghadiri Festival Pinisi?

Saya membayangkan sebuah festival yang tidak hanya mengundang orang untuk menyaksikan kapal yang telah selesai dibuat, tetapi juga mengajak mereka memahami bagaimana kapal itu dilahirkan. Sebuah festival yang menghadirkan ruang belajar bersama, tempat masyarakat, pelajar, generasi muda, peneliti, dan wisatawan dapat mendengarkan langsung cerita para panrita, melihat demonstrasi teknik pembuatan kapal, serta memahami nilai-nilai yang menyertai setiap tahap pengerjaannya.

Dengan demikian, pengunjung tidak hanya pulang membawa foto dan kenangan, tetapi juga membawa pengetahuan dan penghargaan yang lebih dalam terhadap kebudayaan Pinisi.

Sudah saatnya para panrita tidak hanya menjadi bagian dari festival, tetapi memperoleh ruang utama sebagai pemilik pengetahuan dan pelaku kebudayaan yang sesungguhnya.

Merekalah yang memahami prosesnya, menguasai keterampilannya, dan menjaga keberlangsungannya. Oleh karena itu, keterlibatan para panrita semestinya tidak berhenti pada kehadiran dalam seremoni atau penampilan hasil karya. Suara dan pengalaman mereka penting dalam menentukan bagaimana Pinisi diperkenalkan, bagaimana pengetahuannya diwariskan, dan bagaimana tradisi ini dijaga agar tetap relevan pada masa mendatang.

Ruang berbagi pengetahuan

Festival Pinisi dapat menjadi ruang bagi para panrita untuk berbagi pengetahuan, berdialog dengan generasi muda, serta menyampaikan tantangan yang mereka hadapi dalam mempertahankan tradisi pembuatan kapal. Bahkan, mereka dapat dilibatkan sejak tahap perencanaan festival agar agenda yang disusun tidak hanya menarik bagi pengunjung, tetapi juga bermakna bagi para pelaku kebudayaan itu sendiri.

Di sinilah pentingnya membedakan antara mempromosikan kebudayaan dan merawat kebudayaan. Promosi membuat orang mengenal Pinisi, sedangkan perawatan memastikan bahwa pengetahuan, keterampilan, dan orang-orang yang menjaganya tetap memiliki tempat untuk tumbuh. Keduanya sama-sama penting. Namun, promosi yang tidak disertai upaya pelestarian berisiko membuat kita hanya merayakan hasil akhirnya, sementara proses yang melahirkannya perlahan kehilangan penerus.

Persoalan regenerasi menjadi salah satu hal yang patut mendapat perhatian. Siapa yang akan membuat Pinisi dua puluh atau tiga puluh tahun mendatang jika semakin sedikit generasi muda yang mengenal proses pembuatannya? Bagaimana pengetahuan para panrita akan bertahan apabila tidak ada ruang yang cukup untuk belajar, berlatih, dan meneruskan keterampilan tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan ini tentu membutuhkan jawaban yang tidak sederhana. Regenerasi bukan hanya soal mengajak anak muda mencintai budaya, tetapi juga memastikan adanya kesempatan untuk mempelajarinya, memperoleh pengalaman langsung, serta melihat bahwa keterampilan tradisional memiliki nilai dan masa depan. Festival dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk mewujudkannya, melalui lokakarya, program belajar bersama panrita, dokumentasi pengetahuan tradisional, dan kemitraan dengan sekolah maupun komunitas.

Di sisi lain, keberlanjutan Pinisi juga tidak bisa dilepaskan dari kehidupan para pembuatnya. Pelestarian kebudayaan semestinya memberi perhatian pada keberlanjutan mata pencaharian, ketersediaan bahan baku, ruang kerja, dan berbagai tantangan yang dihadapi para pelaku pembuatan kapal. Jika Pinisi ingin terus hidup sebagai tradisi, maka ekosistem yang menopangnya juga perlu dirawat.

Karena itu, Festival Pinisi dapat menjadi momentum untuk mempertemukan para panrita, pemerintah daerah, komunitas budaya, dunia pendidikan, pelaku usaha, dan masyarakat dalam membicarakan masa depan Pinisi. Tidak hanya tentang bagaimana menjadikannya daya tarik wisata, tetapi juga bagaimana membangun langkah nyata untuk menjaga pengetahuan dan keberlangsungan pembuatannya.

Tentu, tidak semua persoalan tersebut harus diselesaikan dalam satu festival. Namun, festival dapat menjadi titik awal untuk membangun program yang berkelanjutan. Misalnya, mendokumentasikan cerita dan teknik para panrita, menyusun program pewarisan keterampilan bagi generasi muda, menghadirkan pameran tahapan pembuatan kapal, serta membuka ruang diskusi mengenai tantangan pelestarian Pinisi. Yang tidak kalah penting, perlu ada tindak lanjut setelah festival berakhir, sehingga perayaan tidak berhenti sebagai agenda tahunan.

Kebudayaan tidak cukup hanya dikenang

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan festival tidak semestinya hanya dilihat dari kemeriahan acara, jumlah pengunjung, atau banyaknya perhatian yang diperoleh. Kita juga perlu bertanya: pengetahuan apa yang berhasil diwariskan? Berapa banyak generasi muda yang memperoleh kesempatan belajar? Seberapa besar ruang yang diberikan kepada para panrita? Dan apa yang tetap berjalan ketika panggung festival telah dibongkar?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan bentuk ketidakpuasan terhadap kerja-kerja yang telah dilakukan. Sebaliknya, ini merupakan ajakan agar upaya yang sudah ada dapat terus berkembang dan memberikan dampak yang lebih luas.

Bulukumba memiliki alasan yang kuat untuk bangga terhadap Pinisi. Namun, kebanggaan itu akan semakin bermakna apabila tidak hanya diwujudkan melalui perayaan, melainkan juga melalui tanggung jawab untuk menjaga keberlangsungannya. Pinisi bukan hanya warisan yang patut diperlihatkan kepada dunia, tetapi juga pengetahuan yang perlu dipahami, dipraktikkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Jangan sampai suatu hari nanti kita masih mampu menyelenggarakan Festival Pinisi dengan meriah, tetapi justru kesulitan menemukan orang-orang yang mewarisi keterampilan untuk membuatnya. Jangan sampai kita berhasil mempertahankan nama besar Pinisi, tetapi kehilangan sebagian pengetahuan yang menjadi jiwa di baliknya.

Sebab, kebudayaan tidak cukup hanya dikenang, dipamerkan, dan dirayakan. Kebudayaan harus terus dihidupkan melalui manusia yang menjaganya dan generasi yang bersedia meneruskannya.

Jika Pinisi adalah kebanggaan Bulukumba, maka merawat para panrita dan pengetahuan mereka adalah bagian dari tanggung jawab kita bersama.

Sudah saatnya Festival Pinisi tidak hanya menjadi panggung untuk menyaksikan kapal yang berlayar, tetapi juga ruang untuk memahami perjalanan panjang yang membuatnya tercipta. Bukan sekadar perayaan atas warisan masa lalu, melainkan ikhtiar bersama untuk memastikan bahwa warisan itu tetap memiliki masa depan.

Sebab, pada akhirnya, yang perlu kita wariskan kepada generasi berikutnya bukan hanya cerita tentang betapa hebatnya Pinisi, tetapi juga kesempatan bagi mereka untuk memahami, mempelajari, dan meneruskan pengetahuan yang membuat Pinisi tetap hidup.