Investasi Agribisnis Bulukumba Dijaga Ketat, Jangan Kertas!
Bupati Bulukumba Andi Utta tegas meminta investasi agribisnis Bulukumba bersama FamFresh tak sekadar konsep kertas. Baca selengkapnya di sini.
Jalurdua.com BULUKUMBA — "Jangan hanya menjadi konsep di atas kertas, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat." Kalimat bernada tegas itu meluncur dari bibir Bupati Bulukumba, Andi Muhtar Ali Yusuf. Di hadapan para birokrat, akademisi, dan pelaku usaha, pria yang akrab disapa Andi Utta ini memperingatkan agar forum strategis tidak berakhir menjadi seremoni usang tanpa dampak konkret bagi publik.
Pernyataan keras tersebut menjadi jangkar utama dalam Workshop Membangun Ekosistem Investasi Agribisnis di Kabupaten Bulukumba. Digelar di Ruang Kahayya, Gedung Pinisi pada Rabu, 3 Juni 2026, agenda ini mempertemukan PT Pinisi Citra Bulukumba (Perseroda) dengan FamFresh Industries. Pertemuan lintas sektor ini dirancang untuk merumuskan langkah konkret pengembangan ekonomi daerah.
Suasana di dalam Ruang Kahayya siang itu terasa hidup. Agenda ini bukan sekadar ajang kumpul normatif. Ada urgensi yang nyata dari para peserta yang hadir, mulai dari jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait hingga pelaku UMKM lokal. Mereka menyadari, besarnya potensi alam Bulukumba selama ini kerap terhambat oleh tata kelola yang belum terintegrasi dengan baik.
Selain Bupati, meja utama diisi oleh Sekretaris Daerah Muhammad Ali Saleng dan Direktur PT Pinisi Citra Bulukumba (Perseroda) Zulkifli Saiyye. Hadir pula perwakilan FamFresh Indonesia Adi Wirawan, serta Direktur Utama PT Bridge Selaras Energy Mutia. Kehadiran para petinggi korporasi dan birokrasi ini menandakan bahwa cetak biru yang sedang disusun memiliki posisi tawar strategis.
Menguji Komitmen Kemudahan Berusaha di Daerah
Andi Utta menyadari betul bahwa kekayaan alam yang melimpah tidak akan berarti banyak tanpa tata kelola profesional dan investasi yang sehat. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Bulukumba secara terbuka menyatakan komitmennya untuk menjamin iklim investasi yang kondusif. Jaminan itu diwujudkan lewat janji kemudahan berusaha bagi para investor yang siap masuk ke bumi Panritalopi.
Namun, karpet merah yang digelar pemerintah daerah bukan tanpa syarat. Skema investasi agribisnis Bulukumba yang ditawarkan harus mampu memberikan dampak berganda (multiplier effect). Kerja sama antara FamFresh Industries dan Perseroda diharapkan menjadi model kemitraan produktif yang mereformasi cara daerah mengelola sektor pangan.
Langkah ini dinilai krusial untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan. Penguatan investasi agribisnis ini juga diproyeksikan menjadi mesin baru dalam mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dengan pengelolaan yang mandiri melalui BUMD, ketergantungan terhadap dana perimbangan pusat secara bertahap dapat dikurangi.
Membaca Peta Investigasi Lapangan Korporasi
Merespons ketegasan bupati, pihak investor langsung bergerak taktis. Perwakilan Farm Fresh Indonesia, Adi Wirawan, mengungkapkan bahwa pihaknya tidak ingin membuang waktu. Korporasi melihat Bulukumba memiliki rantai pasok yang sangat potensial untuk dikembangkan dengan pendekatan dari hulu hingga hilir.
"Izin pak bupati, satu dua tiga hari ini, kami ingin coba menggali informasi sebanyak-banyaknya dari bapak/ibu peserta workshop," kata Adi Wirawan selaku Business Development FarmFresh Industries. Langkah lapangan ini dilakukan agar perusahaan mengetahui secara presisi wilayah dan sektor mana yang paling siap untuk disuntik modal.
Data hasil investigasi kilat dan serapan informasi dari workshop tersebut nantinya akan langsung ditindaklanjuti. FamFresh bersama Perseroda berkomitmen menyusun langkah-langkah strategis investasi yang terukur dan berkelanjutan. Pendekatan berbasis data lapangan ini diambil demi menghindari proyek mangkrak yang sering menghantui kerja sama daerah dan swasta.
Membidik Empat Sektor Unggulan Ekosistem Agribisnis
Pengembangan ekosistem baru ini nantinya tidak akan berjalan melebar, melainkan fokus pada empat sektor utama. Sektor perikanan, pertanian, perkebunan, dan peternakan ditunjuk sebagai pilar utama gerakan ekonomi ini. Keempat lini tersebut dinilai paling siap dari segi ketersediaan bahan baku lokal dan serapan tenaga kerja.
Direktur PT Pinisi Citra Bulukumba (Perseroda), Zulkifli Saiyye, menjelaskan bahwa integrasi keempat sektor ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang. Dengan ekosistem yang terintegrasi, produk-produk mentah hasil bumi tidak lagi langsung dijual keluar daerah, melainkan diolah terlebih dahulu untuk memberikan nilai tambah bagi masyarakat lokal.
Optimalisasi hilirisasi ini dinilai memiliki peluang besar untuk meningkatkan produktivitas daerah secara masif. Selain memperluas lapangan kerja bagi pemuda setempat, penguatan sektor-sektor ini dipercaya akan memperkuat daya saing ekonomi daerah di tingkat regional maupun nasional.
Menanti Realisasi Cetak Biru Gedung Pinisi
Publik kini menanti apakah rekomendasi strategis dan langkah aplikatif dari workshop di Gedung Pinisi ini benar-benar berjalan di lapangan. Harapan besarnya, kolaborasi ini mampu memperkokoh posisi Bulukumba sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi utama di Sulawesi Selatan.
Ujian sesungguhnya bagi Pemkab Bulukumba dan Perseroda terletak pada konsistensi birokrasi dalam mengawal komitmen kemudahan berusaha yang telah dijanjikan. Jika regulasi di lapangan sekaku rujukan lama, maka target investasi agribisnis Bulukumba berisiko kembali menjadi tumpukan dokumen di atas meja kerja.***