Iran yang Terlalu Baik atau Indonesia yang Terlalu Tidak Tahu Diri?
Di tengah bayang-bayang perang dan luka diplomatik yang belum sembuh, Iran justru memberi jalan bagi kapal Indonesia di Selat Hormuz.
Dalam hubungan internasional, tidak ada kebaikan yang benar-benar gratis, dan tidak ada keputusan yang benar-benar tanpa perhitungan. Tapi tetap saja, ada momen-momen ketika logika dan pengalaman masa lalu bertemu, lalu menghasilkan sesuatu yang terlihat sederhana di permukaan, namun rumit di dalam. Dan di situlah letak satire paling halus dari semuanya: Bahwa di antara ribuan analisis strategi, konferensi keamanan, dan pernyataan resmi yang penuh istilah elegan, terkadang dunia bergerak bukan karena skenario besar yang sempurna—melainkan karena satu keputusan kecil yang, jika diterjemahkan ke bahasa sehari-hari, terdengar seperti: “Ya sudah, lewat saja.” Mungkin memang tidak heroik. Tapi justru karena itu, ia terasa sangat manusiawi.***
- Kurdiansyah Anggoro Pantau Pesanan Pinisi Surya Paloh
- Pengrajin Pinisi Bulukumba Tembus Pasar Dunia
- BPS Canangkan Desa Cantik Rilau Ale, Ubah Desa Jadi Subjek Data
- Apdesi Merah Putih Deklarasi Desa Bersinar di Bulukumba
- Pemkab Bulukumba Perkuat Tata Kelola Data Berbasis Spasial
- Iran yang Terlalu Baik atau Indonesia yang Terlalu Tidak Tahu Diri?
- Ayah, ‘Bentar ya’, dan Tragedi yang Terlambat Disadari
- Dari Bulukumba, Refleksi HPN 2026 untuk Pers Indonesia
- Kurdiansyah Anggoro Pantau Pesanan Pinisi Surya Paloh
- Pengrajin Pinisi Bulukumba Tembus Pasar Dunia