Hubungan RI-Singapura: Prabowo dan PM Wong Amankan Selat Malaka
Presiden Prabowo Subianto dan PM Lawrence Wong sepakati 26 kerja sama strategis, mulai dari energi hijau Morowali hingga rute Selat Malaka.
Jalurdua.com JAKARTA — Jalur pelayaran terpadat di dunia, Selat Malaka, menjadi fokus krusial dalam pertemuan bilateral tingkat tinggi antara Indonesia dan Singapura. Presiden RI Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menegaskan komitmen bersama untuk menjaga keamanan selat tersebut dari berbagai ancaman modern, mulai dari pencemaran lingkungan hingga praktik pembajakan laut (piracy).
Langkah taktis ini disepakati dalam forum Leaders’ Retreat yang berlangsung di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin, 6 Juli 2026. Guna memastikan jalur logistik global tersebut tetap steril dan terbuka, Indonesia dan Singapura memperkuat barisan penegakan hukum maritim internasional.
“Kita harus pelihara keamanan, perdamaian di selat itu, juga tentunya keamanan dari polusi, dari kecelakaan, dan juga dari perompakan atau dari piracy. Ini merupakan kepentingan yang vital antara negara-negara di sekitar Selat Malaka,” tegas Presiden Prabowo Subianto.
Pemerintah Indonesia memastikan skema pengamanan ini tidak berdiri sendiri. Keduanya bakal mengintensifkan koordinasi kuadrilateral bersama Malaysia dan Thailand demi menyelaraskan regulasi yang mengacu pada prinsip Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS 1982).
Proyek Solar Morowali dan Transisi Energi Bersih
Di luar urusan kedaulatan laut, magnet utama pertemuan duo pemimpin ini tertuju pada investasi hijau. PM Lawrence Wong melihat Indonesia memiliki modal besar untuk memimpin pasar energi baru terbarukan (EBT) di Asia Tenggara. Sebagai realisasi awal, Singapura resmi menggandeng Indonesia untuk menggarap megaproyek pembangkit listrik tenaga surya (solar) di Morowali, Sulawesi Tengah.
Kerja sama sektor ini mencakup kerangka niaga perdagangan listrik lintas batas negara serta mekanisme kredit karbon (carbon credit). Singapura menaruh kepercayaan tinggi terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo.
"Kami memiliki optimisme yang kuat terhadap prospek masa depan Indonesia. Singapura siap untuk terus memperkuat kemitraan strategis ini, baik dalam mendukung transisi energi hijau maupun memperkokoh pertahanan bersama, demi memastikan kawasan kita tetap stabil, aman, dan sejahtera," ungkap PM Lawrence Wong.
Rincian 26 Dokumen Perjanjian Strategis Baru
Secara keseluruhan, pertemuan Leaders’ Retreat kali ini menelurkan 26 kesepakatan konkret yang memayungi sektor publik maupun swasta. Kerja sama ini menjadi cetak biru baru hubungan diplomatik kedua negara tetangga agar lebih mendalam dan berdampak langsung pada masyarakat.
Presiden Prabowo merinci sebaran dokumen kerja sama tersebut, yang terbagi ke dalam dua klaster besar:
18 Kesepakatan Antarpemerintah (G-to-G): Meliputi arsitektur pertahanan, interkoneksi jaringan udara, tata hukum sosial, ketahanan kesehatan, pendidikan, hingga program pemberdayaan perempuan.
8 Kesepakatan Antarpelaku Usaha (B-to-B): Fokus pada penguatan rantai pasok industri, infrastruktur digital, serta adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI).
“Pertemuan kali ini menghasilkan 26 capaian nyata, capaian konkret di berbagai bidang. Capaian-capaian ini mencerminkan semakin luas dan mendalam kerja sama kita,” ujar Presiden Prabowo.
Kemitraan yang terjalin pada Juli 2026 ini menandai pergeseran arah diplomasi regional, di mana kekuatan ekonomi konvensional kini dipadukan dengan ketahanan digital dan kedaulatan energi hijau guna menghadapi tantangan geopolitik global yang semakin dinamis.***