News and Education Versi penuh
Nasional

Strategi Kemenkes Dorong Nakes Go Global Lewat Migrant Career Center

Migrant Career Center jadi solusi nakes Indonesia go global. Kemenkes-KP2MI siapkan sistem aman, legal, dan kompetitif.

Oleh Uno 03 Apr 2026 12:39 3 menit baca

JAKARTA - Di sebuah ruang kelas Politeknik Kesehatan, mimpi itu perlahan tumbuh. Mahasiswa keperawatan menatap masa depan dengan harapan sederhana: bekerja, mengabdi, dan hidup layak. Namun kini, cakrawala itu meluas. Dunia bukan lagi sekadar bayangan jauh, melainkan peluang nyata yang mulai terbuka.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia/Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) resmi mengukir langkah strategis dengan membentuk Migrant Career Center di 38 Poltekkes. Kesepakatan ini diteken di Jakarta, Kamis (2/4), disaksikan Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono dan Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Christina Aryani.

Langkah ini bukan sekadar kebijakan administratif. Ia adalah jawaban atas kebutuhan global yang terus meningkat, sekaligus refleksi dari potensi besar tenaga kesehatan Indonesia yang selama ini belum sepenuhnya teroptimalkan.

Permintaan tenaga kesehatan dari luar negeri terus melonjak. Sejak 2021, sekitar 33.000 tenaga kesehatan dibutuhkan oleh negara-negara seperti Jepang, Jerman, Arab Saudi, hingga Qatar. Namun Indonesia baru mampu memenuhi sekitar 20 persen dari total kebutuhan tersebut.

Di sisi lain, realitas di dalam negeri menunjukkan paradoks. Indonesia diproyeksikan mengalami surplus perawat lebih dari 50.000 orang pada 2029. Setiap tahun, lebih dari 42.000 tenaga kesehatan diluluskan dari 38 Poltekkes.

“Sinergi dengan KP2MI sangat penting untuk memfasilitasi tenaga kesehatan kita agar bisa berkarier secara profesional di mancanegara dengan perlindungan hukum dan kesejahteraan yang pasti,” ujar Wamenkes Dante.

Pernyataan itu menegaskan satu hal penting: ini bukan hanya soal peluang kerja, tetapi juga soal perlindungan dan martabat profesi.

Selama bertahun-tahun, hambatan terbesar bukan terletak pada kompetensi klinis. Banyak lulusan Indonesia diakui memiliki kualitas yang baik. Namun mereka tersendat pada hal-hal nonteknis: kemampuan bahasa, adaptasi budaya, hingga akses informasi yang terbatas.

Akibatnya, dalam tiga tahun terakhir, hanya sekitar 1.100 lulusan Poltekkes yang berhasil menembus pasar global.

Di sinilah Migrant Career Center hadir sebagai solusi. Ia dirancang sebagai pusat layanan satu pintu yang menyediakan informasi menyeluruh—mulai dari peluang kerja, prosedur legal, pelatihan bahasa, hingga skema pembiayaan.

“Pembentukan Migrant Career Center di 38 Poltekkes akan menyediakan ekosistem informasi menyeluruh, termasuk skema pembiayaan, demi memperkuat daya saing pekerja migran Indonesia di pasar internasional,” ujar Wamen Christina.

Lebih dari sekadar pusat informasi, ini adalah fondasi ekosistem baru yang selama ini belum terbangun secara sistematis.

Perlindungan Jadi Prioritas, Bukan Sekadar Formalitas

Isu pekerja migran kerap dibayangi oleh risiko penempatan nonprosedural. Oleh karena itu, kerja sama ini menempatkan perlindungan sebagai prioritas utama.

Selain pengembangan kapasitas, program ini juga mencakup pertukaran data lintas instansi dan sosialisasi masif tentang migrasi aman. Tujuannya jelas: memastikan setiap tenaga kesehatan berangkat melalui jalur resmi, memahami hak dan kewajibannya, serta terlindungi secara hukum.

“Fokus utama kerja sama ini adalah aspek perlindungan serta kepastian agar pekerja memahami hak dan kewajibannya,” tegas Christina.

Pendekatan ini menjadi krusial untuk membangun kepercayaan, baik di dalam negeri maupun di mata pasar global.

Menjawab Kesenjangan, Mengoptimalkan Potensi

Direktur Jenderal SDM Kesehatan, Yuli Farianti, mengungkapkan bahwa selama ini banyak lulusan sebenarnya memiliki potensi besar, tetapi tidak memiliki jalur yang jelas untuk bekerja di luar negeri.

“Selama ini banyak lulusan kita yang punya potensi, tetapi belum memiliki jalur yang jelas untuk ke luar negeri. Dengan kerja sama ini, kita ingin memastikan jalur itu ada, jelas, dan aman,” pungkas Yuli.

Indonesia Menuju Eksportir SDM Kesehatan Global

Dengan terbentuknya Migrant Career Center, Indonesia perlahan mengubah posisinya—dari sekadar penyedia tenaga kerja domestik menjadi pemain strategis dalam pasar tenaga kesehatan global.

Ini bukan hanya tentang ekonomi, tetapi juga diplomasi tenaga kerja, peningkatan devisa, dan pengakuan kualitas SDM Indonesia di mata dunia.*

Topik terkait
tenaga kesehatan Indonesia Migrant Career Center nakes go global