News and Education Versi penuh
Edukasi

Studi; Asap Kebakaran Hutan Saat Hamil Tingkatkan Risiko Autisme pada Anak

Oleh Redaksi 04 Nov 2026 20:33 3 menit baca

JALURDUA - Klikhijau.com – Asap dari kebakaran hutan bisa bergerak jauh. Bukan hanya di sekitar hutan yang terbakar. Dan asapnya membawa partikel-partikel kecil. Jika terhirup  dapat membahayakan paru-paru dan jantung.

Bagi perempuan yang sedang hamil, dampaknya bisa lebih besar. Bukan hanya bagi si ibu, tetapi juga bayi yang dikandungnya.

Sebuah studi terbaru di Amerika Serikat (AS) menemukan, paparan asap kebakaran hutan yang lebih besar selama kehamilan dikaitkan dengan kemungkinan autisme yang lebih tinggi pada anak-anak.

Studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Pediatrics menyoroti adanya temuan peneliti  yang berkaitan antara ibu hamil yang terpapar asap kebakaran hutan dengan peningkatan risiko anak mereka didiagnosis menderita autisme di kemudian hari.

Studi tersebut melibatkan hampir 900.000 keluarga. Hubungan tersebut paling kuat selama pertengahan dan akhir bulan kehamilan. Para peneliti tidak menemukan hubungan yang jelas dengan ADHD.

Para peneliti mempelajari catatan dari 893.212 ibu dan anak-anak mereka yang terdaftar dalam Medicaid, sebuah program asuransi kesehatan publik.

Anak-anak tersebut lahir antara tahun 2007 dan 2014, dan tim tersebut mengikuti catatan kesehatan mereka sepanjang masa kanak-kanak.

Studi tersebut dipimpin Stefania Papatheodorou, seorang ahli epidemiologi di Rutgers School of Public Health.  Tim tersebut menggunakan catatan asuransi kesehatan untuk mencari pola, sehingga temuan tersebut tidak dapat menunjukkan bahwa asap kebakaran hutan menyebabkan autisme.

“Asap kebakaran hutan dapat menyebar jauh melampaui komunitas tempat kebakaran terjadi, dan paparan dapat terjadi bahkan ketika asap tidak terlihat,” kata Papatheodorou.

Guna memetakan paparan asap, tim  peneliti menggunakan model komputer yang melacak polusi kebakaran hutan dari minggu ke minggu.

 Untuk melacak sebaran polusi, tim peneliti menggunakan model komputer canggih yang memantau partikel polusi kebakaran hutan dari minggu ke minggu pada area seluas 1 kilometer persegi.

Hasil perkiraan tersebut kemudian dirata-ratakan berdasarkan kode pos tempat tinggal para ibu.Peneliti memfokuskan perhatian pada partikel halus, yaitu partikel padat atau tetesan cairan di udara yang berukuran sangat kecil (sekitar 2,5 mikrometer atau sepersepuluh ribu inci).

Kebakaran hutan kini menjadi salah satu sumber utama meningkatnya jenis polusi ini. Agar data lebih konsisten, studi ini berfokus khusus pada kelompok ibu yang tetap memiliki jaminan kesehatan Medicaid dan tinggal di kode pos yang sama selama masa kehamilan mereka.

Diagnosis autisme dan ADHD pada anak diidentifikasi melalui catatan penagihan medis yang metodenya telah teruji akurat dalam penelitian sebelumnya.

Dari data tindak lanjut, sebanyak 8.357 anak didiagnosis menderita autisme. Secara statistik, diperkirakan sekitar 1,9% anak akan menerima diagnosis autisme pada usia delapan tahun.

Paparan asap yang lebih tinggi ternyata berbanding lurus dengan peningkatan risiko. Perbedaan tingkat polusi sebesar 0.75 mikrogram per meter kubik selama masa kehamilan dikaitkan dengan peningkatan risiko diagnosis autisme sebesar 30%.

Meski begiti, para peneliti menegaskan bahwa ini adalah peningkatan risiko relatif. Buktinya sebagian besar anak, termasuk yang terpapar asap lebih banyak, tapi tidak mengalami autisme.

Analisis mingguan menunjukkan bahwa kaitan terkuat antara paparan asap dan autisme terjadi pada masa pertengahan hingga bulan-bulan terakhir kehamilan.

Meskipun diagnosis ADHD ditemukan lebih umum (sekitar 10,4% anak pada usia delapan tahun), perbedaan tingkat paparan asap yang sama hanya menunjukkan peningkatan risiko sebesar 3% yang mana angka ini belum bisa sepenuhnya menyingkirkan faktor kebetulan.

Sebuah studi terpisah di California (2001–2019) menemukan hubungan yang secara umum lemah antara rata-rata paparan asap kebakaran hutan dan autisme.