Che - Mengenang 54 Tahun Kematian Che Guevara
54 Tahun kematian Che Guevara yang ditulis oleh Toni Theolog, dan tayang di KdP (Kabar dari Pijar) edisi November 1997 - PIJAR : Pusat Informasi Jaringan Aksi Reformasi, berdiri era tahun 1980-an....
Salahsatu kunci keberhasilannya adalah dukungan rakyat yang dirumuskan dalam salahsatu bagian bukunya "Guerrilla Warfare" (Perang Gerilya) sebagai berikut: "..Setelah menganalisa berbagai model perang gerilya, bentuk perjuangannya dan memahami bahwa basis mereka adalah diantara massa rakyat, semua itu memunculkan pertanyaan; apa yang ingin diperjuangkan para gerilyawan? Kita akan sampai pada kesimpulan yang tidak bisa dihindarkan bahwa pejuang gerilya adalah pembaharu tatanan sosial (Social Reformer) yang mengangkat senjata untuk merespon protes kemarahan rakyat kepada para penindasnya dan mereka (gerilyawan) berjuang untuk merubah sistem sosial yang membuat saudara-saudara kita yang lemah terpuruk dalam kemiskinan dan kenistaan…" Jadi, orientasi perjuangan pembaharuan (apapun bentuknya) harus tetap diikat oleh keberpihakan kepada mereka yang lemah, miskin dan tertindas.
Setelah Revolusi usai, Che membantu rakyat Cuba untuk membangun negerinya dan menentukan sendiri pilihan-pilihan atas masa depan mereka tanpa didikte oleh kaum oligarki dan penguasa militer dukungan Amerika. Che juga berusaha membela kepentingan rakyat dunia ketiga di berbagai forum internasional, seperti saat ia berpidato di depan sidang Majelis Umum PBB di New York pada tahun 1961. Che dengan gaya orator yang memukau membuat Duta Besar Amerika di PBB meninggalkan ruang sidang dan secara diam-diam mengikuti pidato tersebut dari layar TV di kantor perwakilan Amerika Serikat yang letaknya di seberang gedung PBB. Para peserta sidang pun tidak henti-hentinya bertepuk memuji pidato Che.
Pada awal April 1965 Che menghilang dari Cuba dan meninggalkan semua jabatannya sebagai Direktur Bank Nasional Cuba, Mentri Perindustrian dan perwira militer. Ia lalu menggabungkan dirinya ke dalam kancah revolusi di negara-negara Dunia Ketiga yang masih membutuhkan perjuangannya. Dengan demikian ia mengingatkan bahwa tugas seorang revolusioner sejati tidak berhenti dengan hanya tumbangnya seorang diktaktor di satu negeri lalu setelah itu tenggelam dalam kehidupan yang mapan. Ia mau memberi contoh sesuai dengan slogan yang sering didengungkannya:"Hasta La Victoria Siempre". Terus berjuang mencapai kemenangan sejati.
Che akhirnya mati terbunuh pada 9 Oktober 1967 di Bolivia, dimana kematiannya menyulut ribuan demonstrasi di seantero dunia. Mereka memprotes pembunuhan itu dan menunjukkan simpati kepada perjuangan Che. Cita-citanya tidak berhenti dengan kematian, seperti yang diungkapkan Fidel Castro dalam pidatonya: "..Mereka yang menyombongkan diri telah mencapai kemenangan, telah melakukan kesalahan. Mereka salah kalau mengira bahwa kematian Che mengakhiri semua cita-cita, gagasan, taktik dan konsep gerilyanya. Mengakhiri semua teorinya. Seorang yang gugur, yang mengalami kematian sebagai manusia yang menghadapi peluru berkali-kali, sebagai seorang prajurit dan seorang pemimpin adalah ribuan kali lebih cakap daripada mereka yang membunuhnya karena keuntungan belaka.. "
Masa lalu telah melahirkan banyak pemimpin sejati. Pemimpin yang bukan hasil rekayasa politik, bukan dipilih oleh parlemen palsu dengan segala kebohongannya, tetapi pemimpin yang lahir dari tengah rakyat. Pemimpin yang ditempa di tengah kancah perjuangan dan bermacam pergolakan.
- 1
- 2
- Makan Bergizi Gratis Maluku: Pacu Sertifikasi SLHS Demi Siswa
- KRI Bima Suci Berlayar ke Singapura, Misi Diplomasi
- Sinergi Diskominfo Sulsel–BMKG, Perkuat Info Cuaca
- WNA Inggris Intimidasi Warga Renon Diciduk, Ternyata Overstay
- Nasib 24 Burung Langka: Penyelundup ke Filipina Terancam Bui
- Sinergi Diskominfo Sulsel–BMKG, Perkuat Info Cuaca
- Pemkab Bulukumba Perkuat Tata Kelola Data Berbasis Spasial
- Fatmawati Rusdi Perkuat Program ASRI di Sekolah
- Makan Bergizi Gratis Maluku: Pacu Sertifikasi SLHS Demi Siswa
- KRI Bima Suci Berlayar ke Singapura, Misi Diplomasi