Melampaui Logika Akuntansi, Menakar Ulang Indikator Keberhasilan Urban Farming di Kota Makassar
JALURDUA - Klikhijau.com - Di bawah terik matahari Makassar yang menyengat tanah BTN Antara, Kelurahan Tamalanrea Indah, kepulan asap knalpot dan dentum pembangunan kota perlahan memudar di sebuah petak lahan berukuran 14x12 meter. Di balik pagar sederhana Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Sari, waktu seolah berjalan dengan ritme yang berbeda. Kamis sore itu, 5 November 2026, aroma tanah basah pada bedengan yang di rawat bersama oleh masyarakat sekitar seolah menyapa indra penciuma bagi siapa saja yang melintas.
Di sinilah dua generasi bertaut. Muhrianto (58), yang akrab disapa Pakde, sedang mengamati helai-helai daun terung yang mulai menghijau. Bagi pria yang juga bertindak sebagai Ketua RT 03 ini, berkebun di tengah himpitan beton bukan sekadar upaya memanen sayur.
Ia telah jauh, memahami dan memaknai praktik dan kebun perkotaan sebagai laboratorium terapi jiwa. Ketika tubuhnya lelah oleh rutinitas perkotaan, menyiram tanah di pagi hari atau menyaksikan tunas kangkung menyeruak dari sela sampah organik adalah obat yang tak bisa dibeli di apotek mana pun.
Demikian pada musim-musim panen hasil yang dibagikan untuk dinikmati Bersama para keluarga di meja makan membawa kebahagian tersendiri yang tak terjelaskan dan tak terbayarkan oleh apapun.
Namun, di sudut lain kebun yang sama, Alief Muhammad Badar (25) memandang hamparan bedeng tersebut dengan nalar yang berbeda, sebuah nalar kritis yang merespons kebijakan urban farming di Kota Makassar dari bilik sangkaan yang mendalam.
Alief tidak datang membawa keranjang panen, melainkan sebuah pertanyaan filosofis, Apa esensi sejati dari pertanian perkotaan jika semuanya harus dikonversi menjadi angka rupiah?
Jebakan logika akuntansi dalam kebijakan perkotaan
Selama beberapa tahun terakhir, narasi besar urban farming di Makassar, termasuk akselerasi kebijakan perluasan kawasan berkebun berbasis RW di bawah kepemimpinan Wali Kota Munafri Arifuddin, sering kali terjebak pada capaian-capaian formil.
Keberhasilan diukur lewat tonase panen, nominal penjualan di pasar tani, pencatatan timbangan sampah, hingga etalase kompetisi musiman. Ketika pejabat datang membawa bantuan bibit, harapan yang disematkan hampir selalu tunggal, kebun lorong harus menjadi unit usaha ekonomi makro skala kecil.
Paradigma ini dinilai Alief sebagai bentuk pemaksaan imajinasi yang tidak berjejak pada realitas lapangan. Memaksa para lansia dan warga lorong untuk menjadi akuntan bagi petak tanah sempit mereka justru membunuh kesadaran alami warga.
Jalannya program menjadi oga-ogahan, marak saat ada penilaian lomba, lalu terlantar begitu panggung seremonial dibongkar.
Jika pemangku kebijakan terus-menerus menuntut konversi ekonomi, Alief menantang balik keberadaan rumus matematisnya, hitungan rasional. Berapa liter air yang dihabiskan untuk lahan 10x10 meter? Berapa rupiah biaya operasional yang sesungguhnya ditanggung warga mandiri?. Tanpa transparansi dan pemahaman atas kerumitan teknis tersebut, tuntutan target ekonomi hanya menjadi beban administratif yang menggeser esensi paling mendasar dari urban farming.
Merebut Kembali Commons Perkotaan yang Mengasingkan
Secara sosiologis, dinamika perkotaan Makassar selama dekade terakhir ditandai oleh komodifikasi ruang dan fenomena alienasi warga urban. Lorong-lorong perkotaan yang dulunya menjadi arena interaksi komunal perlahan terfragmentasi oleh dinding-dinding privasi, kesibukan individu, serta sekat-sekat benteng perumahan. Manusia urban berjarak satu sama lain, terjebak dalam pola hidup atomistik yang hanya dihubungkan oleh transaksi ekonomi.
Kehadiran KWT Mekar Sari bertindak sebagai pemecah keasingan tersebut dengan menghidupkan kembali commons, ruang bersama yang dikelola secara kolektif tanpa sekat kepemilikan privat. Kehadiran kebun lorong memicu reorganisasi sosiologis di tingkat RT/RW, di mana ruang fisik sempit ditransformasikan menjadi episentrum kohesi sosial baru.
Di sinilah struktur hierarki perkotaan meluruh. Anak muda seperti Alief yang membawa perspektif agroekologi yang memiliki daya kritis bertukar ide secara sejajar dengan lansia seperti Pakde Muhrianto yang kaya akan intuisi praktis. Kelompok wanita tani, lansia, hingga pemuda yang sebelumnya terpinggirkan dari wacana pembangunan kota, mendadak menemukan peran strategis.
Kebun menjadi tempat di mana tetangga yang dulunya tak saling menyapa kini berkumpul setiap pagi dan sore, menyiram Bersama-bergantian, mencacah sampah bersama, hingga mendiskusikan masalah lingkungan lokal. Urban farming pada titik ini bukan lagi berkutat pada kegiatan bercocok tanam, melainkan manifestasi perlawanan terhadap alienasi sosial masyarakat urban melalui institusi gotong royong yang direvitalisasi.
Menagih ruang untuk capung dan cacing
Di sisi lain, ekspansi beton yang meminimalkan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Makassar menciptakan efek pulau panas perkotaan (urban heat island) dan memutus mata rantai ekologis secara drastis. Betonisasi lorong menyingkirkan habitat asli yang dulunya dihuni serangga, burung, cacing tanah, dan mikroorganisme pendaur ulang nutrisi.
Di KWT Mekar Sari, Alief dan rekannya membangun kesadaran bahwa urban farming adalah agenda restorasi ekologi kota yang terfragmentasi.
Kebun tidak boleh dirancang hanya sebagai pabrik sayur monokultur yang rakus input sintesis (pestisida kimia sintesis), melainkan harus mereplikasi cara kerja hutan alami dalam skala mini. Keberhasilan diukur dari sejauh mana kebun mampu memanggil kembali biodiversity (keanekaragaman hayati) yang telah diusir oleh peradaban modern.
Mereka menerapkan prinsip pembagian hasil yang radikal namun humanis, 60 persen (pemenuhan konsumsi Bersama) untuk warga, dan 40 persen dikembalikan kepada alam.
Persentase 40 persen itu adalah hak bagi burung yang singgah mencari biji, serangga polinator yang mengisap nektar, serta cacing dan bakteri tanah yang memproses bahan organik di bawah bayang-bayang tanaman cabai dan terung.
Kehadiran vegetasi yang beragam di petak 14x12 meter ini juga secara perlahan memperbaiki mikroklimat (iklim mikro/local) lorong, menurunkan suhu permukaan tanah, menjaga kelembapan udara lokal, dan menyediakan benteng resapan air hujan alami di tengah serbuan semen.
Ketika capung kembali berterbangan di atas bedeng kangkung Tamalanrea Indah, itulah indikator mutlak bahwa fungsi ekologis kota yang sempat mati sedang berdenyut kembali.
Kemandirian irganik dan pemulihan ekosistem tapak
Apa yang disuarakan Alief menemukan pembenaran empirisnya pada sosok Pakde Muhrianto. Sejak merintis KWT Mekar Sari pada 2023, sebuah perintis gerakan yang pernah menarik perhatian Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat berkunjung pada 18 September 2026 lalu.
Selama kurang lebih empat tahun berdiri, operasional di kebun seperti listrik dan air kerap keluar dari kantong pribadinya sendiri. Bantuan pemerintah sering kali berhenti pada pasokan bibit awal yang habis dalam hitungan bulan, meninggalkan pupuk kimia yang mahal dan tanah yang makin tandus.
Namun sejak pertengahan 2026, Pakde mengambil keputusan krusial, menghentikan seluruh pupuk kimia dan beralih sepenuhnya ke sistem pertanian berbasis biologi tanah (organik). Senada dengan cita-cita pemerintah kota yang tengah berupaya keras menggeliatkan gerakan urban farming.
Warga RT 03 yang dulunya membuang limbah dapur secara sembarangan kini berbondong-bondong membawa sampah organik mereka ke kebun.
Daun kering dicacah menggunakan Teknologi Tepat Guna (TTG) hasil rancangan tugas akhir mahasiswa, sisa makanan difermentasi, dan siklus hara tertutup (closed-loop nutrient cycle) terbentuk secara alami.
Tanah yang dulunya padat dan mati kini menjadi gembur dan penuh kehidupan. Keberhasilan di sini tidak dicatat dalam buku kas kelurahan, melainkan terlihat dari kebiasaan baru masyarakat urban yang memilah sampah secara sukarela serta kesediaan mereka menyumbang bibit tanaman secara bergotong royong.
Ketika panen bayam atau kangkungg tiba, sebagian kecilnya kadang dijual murah untuk menutup biaya air pompa, namun sebagian besar dibagikan secara gratis kepada tetangga. Seorang ibu yang anaknya sakit perut bisa langsung memetik daun peria di kebun Pakde, seorang warga yang membutuhkan obat herbal dapat memanen kunyit, seorang ibu rumah tangga yang hendak memasak bisa mengambil dua biji tomat dan segenggam cabai tanpa perlu merogoh kocek.
Kebun ini menjadi penjamin jaring pengaman sosial dan gizi berbasis komunitas, sebuah fungsi sosiologis yang jauh melampaui nilai transaksi dagang biasa.
Menafsir ulang kebijakan pertanian perkotaan
Kisah dari KWT Mekar Sari di Tamalanrea Indah memberikan pesan mendasar bagi para pelaku teknis dan pemangku kebijakan di Balai Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Kebijakan urban farming tidak boleh terus-menerus disederhanakan menjadi angka pencatatan statistik, komoditas komersial, atau sekadar proyek fisik pendukung ketahanan pangan harian.
Tentu, integrasi antara pertanian, peternakan, dan perikanan skala terbatas adalah idealisme teknis yang perlu terus diupayakan di lahan sempit. Namun, ruh dari gerakan ini ada pada transformasi paradigma humanis, sosiologis, dan ekologisnya.
Pemerintah kota perlu hadir bukan sekadar menagih Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) keuangan atau capaian penekanan inflasi daerah, melainkan terus memberikan penguatan kapasitas pada pemulihan keanekaragaman hayati tanah, penjaminan kualitas air dari cemaran zat berbahaya, serta perlindungan terhadap ruang-ruang komunal warga agar tidak terus-menerus tergerus arus gentrifikasi dan komersialisasi kota.
Ketika anak muda seperti Alief bersedia mendedikasikan energinya untuk merawat ekosistem dan lansia seperti Pakde Muhrianto menemukan kembali gairah hidup serta ruang terapeutiknya di antara tanaman kunyit dan terung, Makassar sebenarnya sedang menyaksikan bentuk resiliensi kota yang paling sejati.
Keberhasilan urban farming yang sesungguhnya berada pada rajutan solidaritas warga yang memetik sayur bersama di lorong-lorong mereka, pada tanah yang kembali bernapas, dan pada kepakan sayap serangga yang menemukan kembali rumahnya di tengah belantara beton.