Meski Potensi Ekonominya Cerah dan Khasiatnya Dahsyat, Lappo-Lappo Tetap Terabaikan
JALURDUA - Klikhijau.com - Dua telapak tangan ayah disatukan. Menyerupai orang sedang berdoa. Namun, jelang siang itu, kedua telapak tangannya tak berisi doa, tapi berisi lappo-lappo.
Ayah berjalan pelan agar apa yang dipegangnya tak jatuh berhamburan. Beliau menerabas pohon kopi dan rerumputan yang mulai meninggi.
Ketika sampai di rumah-rumah (rumah kebun yang ukurannya kecil) dan meletakkan apa yang dibawanya. Saya sontak kaget, sebab tak pernah menemukan buah itu sebelumnya atau barangkali lebih tetapnya, tak pernah memerhatikannya.
“temaeki guppa (dapat di mana)?” Tanya saya.
Ayah lalu menunjukkan di mana beliau mendapatkannya. Karena penasaran seperti apa wujud lappo-lappo itu, saya lalu bergerak ke arah yang ditunjuk Ayah.
Di antara rerumputan yang mulai mengering dipanggang kemarau. Lappo-lappo justru sebaliknya. Tetap hijau segar. Kemarau sepertinya tak mampu merampas hijaunya.
Dan itu, untuk pertama kalinya pula saya memakan lappo-lappo. Ukurannya bijinya yang bulat seukuran kelereng, membuatnya hanya sekali saja disusupkan ke dalam mulut. Mengunyahnya dan rasa buahnya terasa asing, bukan asin. Ada campuran manis, kecut, dan asin. Perpaduan yang membuat rasanya memiliki ciri khas yang unik.
Saya memetik yang telah masak, warna buahnya kecoklatan, sebagian telah lepas dari tempatnya bertengger, tergeletak di tanah. Namun, masih bisa diselamatkan alias dimakan.
Tentang lappo-lappo
Lappo-lappo adalah nama lokal di Desa Kindang untuk tumbuhan ciplukan. Nama ilmiahnya Physalis angulata L.
Tumbuhan ini memiliki ciri khas yang mudah dikenali, bukan hanya buahnya. Namun juga karakteristik pertumbuhannya. Ia seperti tumbuhan merambat atau menjalar, tetapi jika ditelisik lebih dalam tak demikian. Hanya seperti merambat saja.
Tumbuhan ini diduga berasal dari daerah tropis Amerika. Kemudian tersebar ke berbagai kawasan di Amerika pasifik, Australia, dan Asia termasuk Indonesia, khususnya di Desa Kahayya, Bulukumba. Di mana saya menemukan dan menikmati buahnya.
Keberadaannya di Desa Kahayya tak mengherankan, karena menurut Paramitha dan Zazaroh (2022), tumbuhan ini dapat tumbuh di dataran rendah hingga ketinggian ketinggian 1.550 mdpl.
Meski memiliki potensi ekonomi yang tinggi dan dapat dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Di Desa Kahayya dan sekitarnya, setahuku belum ada yang membudidayakannya. Justru dianggap sebagai tumbuhan liar yang harus diberantas oleh petani karena mengganggu tanaman utama.
Karena dianggap mengganggu, maka keberadaannya semakin langka. Kelangkaan itu membuat harga jualnya melambung tinggi. Menurut Muhlisin (2019) harga yang fantastis antara Rp 250.000 sampai dengan Rp 500.000 per kilogram
Harga yang tinggi itu rasa-rasanya dipengaruhi oleh dua faktor, pertama karena mulai langka, kedua karena khasiatnya bagi kesehatan tubuh yang dahsyat.
Kandungan dan manfaat
Lappo-lappo telah lama dimanfaatkan sebagai bahan obat herbal tradisional. Rachmawati, (2019) menguraikan bahwa buah dari tumbuhan ini berkhasiat sebagai obat gusi berdarah dan obat mual, sementara daunnya berkhasiat sebagai obat bisul, borok dan peradangan kulit.
Bukan hanya itu, daun dan buahnya dapat dijadikan sebagai bahan makanan, tanaman obat dan sumber berbagai produk metabolit sekunder.
Kandungan tumbuhan ini segunung, di antaranya buahnya kaya vitamin A dan vitamin C, di samping alkaloid, flavonoid, karotenoid dan senyawa bioaktif lainnya.
Tajidan dkk, (2020) juga menegaskan bahwa buah tumbuhan ini mengandung chlorogenik acid, asam sitrum, elaidic acid, dan fisalin. Juga mengandung asam malat, tanin, alkaloid, kriptoxantin, dan gula.
Kandungan senyawanya selain sebagai asupan energi bagi tubuh, juga dapat merawat tubuh agar tetap bugar serta menimbulkan rasa bahagia.
Berniat menanamnya
Setelah tahu setumpuk manfaat dari lappo-lappo, saya kemudian tertarik untuk menanamnya. Dan yang tumbuh liar di kebun kopi di Desa Kahayya itu, dibiarkan saja tumbuh.
Bukan hanya karena manfaatnya sehingga tumbuhan ini perlu ditanam dan dilestarikan, tapi karena mulai langka.
Jika suatu hari nanti lappo-lappo benar-benar punah, itu berarti kita kehilangan tumbuhan yang bisa menyelamatkan kita dari penyakit, juga kita akan kehilangan separuh dari identitas kita.