Mencicipi Kopi dan Buku dari Barista Pinggir Jalan di Palampang. (Bag 2 : Barista Yang Penulis)
Saya menemukan beberapa di antaranya. Buku "Inspiring Bulukumba", "Perempuan Di Atas Pematang", dan "Rumah Putih, Antologi Puisi Serumah."
(Bagian Kedua)
Oleh: MJ Siregar
Kami bertiga yang pulang dari Bone lewat Sinjai seolah terasa hilang semua lelah ketika menjelajahi berbagai rasa dan nuansa di kedai kopi ini.
Salah seorang kawan kami yang setahu saya penggemar kopi espresso rupanya tertarik dengan Kopi Literavenesia.
"Wuih, mantap nih. Nggak diproses melalui mesin espresso tapi rasanya nendang banget," katanya.
Sedangkan kawan saya yang bukan pecinta kopi memilih minuman dingin "Litera Ice Blend" rasa avocado. Kami telusuri, ternyata varian yang disebut LIB ini merupakan kreasi "ciptaan" istri sang barista. "Keren, ada sensasi jeli-jelinya gitu," komentar kawan saya.
Benar-benar klop. Alfian dan istrinya adalah sepasang barista hebat. Bukan hanya mengadopsi resep-resep yang sudah pakem dan paten di kalangan masyarakat namun juga mampu melakukan inovasi membuat minuman dengan varian baru dengan brand sendiri. Saya yakin "Litera Ice Blend" ini benar-benar orisinil dan tidak ada di tempat lain.
"Serba Literasi"
Sambil menikmati menu "Kentang Goreng Librarian", salah seorang kawan saya sengaja googling dan berhasil menemukan informasi, pasangan suami istri pemilik kedai kopi ini rupanya sama-sama penulis. Beberapa data buku karya mereka dengan mudah kami temukan di internet. Berdasarkan data itulah saya berhasil menemukan beberapa buku karya mereka di salah satu rak. Saya menemukan beberapa di antaranya. Buku "Inspiring Bulukumba", "Perempuan Di Atas Pematang", dan "Rumah Putih, Antologi Puisi Serumah."
Kami menjadi mafhum mengapa Alfian dan istrinya mendesain kedai kopinya dengan konsep literasi. Mereka penulis yang juga aktif dalam gerakan literasi seperti membuka rumah baca dan semacamnya. Tidak heran, apapum yang mereka geluti pasti selalu lekat dengan literasi.
Dengan konsep literasi, Kedai Kopi Litera pun tampaknya total di ranah itu. Mulai daftar menu yang didesain berbentuk buku bahkan terdapat "kata pengantar" di dalamnya, nama-nama menu yang didominasi istilah literasi, hingga pasword Wi-Fi yang juga konsisten dengan istilah-istilah dunia literasi.
Sebagai contoh, beberapa menu seperti "Taro Bibliomania", "Puding Lumut Librocubicularist", dan "Pisang Nugget Bibliophilie" yang dari mendengar namanya saja kita langsung masuk ke dimensi berbeda, dunia literasi.
Selama tiga jam kami nongkrong di Kedai Kopi Litera. Pas dengan taglinenya, "Nongkrong dengan cara berbeda," di sini memang terasa nyaman, ada aura untuk membuat pengunjung merasa santai dan bisa berdiskusi hal-hal yang "berisi" meskipun rileks. Memang terdengar alunan musik dengan volume sedang dari arah ruang barista namun tidak hingar bingar. Bocah-bocah keluar masuk mengambil buku-buku bacaan di salah satu rak yang kelihatannya memang dikhususkan sebagai rak koleksi buku untuk anak-anak. Beberapa pengunjung lainnya, tua muda segala usia bergantian memesan menu.
Di kedai kopi ini, yang oleh pemiliknya memang dirancang juga sebagai tempat menggelar diskusi-diskusi formil hingga semacam live akustik dan stand up comedy, kami begitu terkesan dan sangat betah. Tapi kami harus melanjutkan perjalanan ke Kota Makassar.
Setelah membayar setiap menu yang kami nikmati, kami berpamitan. Semoga bisa kembali lagi ke sini, suatu hari nanti. Dan saya ingin membawa setumpuk buku untuk didonasikan ke kedai kopi ini. Insyaa Allah.
Saya tidak pernah menulis tentang kedai kopi dan sejenisnya. Namun kata "Litera" menggoda saya menuliskannya dalam artikel dua bagian ini. Salah satunya untuk memberitahu kepada siapapun bahwa di Bulukumba, selalu saja terdapat hal-hal berbeda, keren, dan ngangenin.(*)
TAMAT