News and Education Versi penuh
Edukasi

Riset Terbaru: Tradisi Pembuatan Pinisi Hadapi Tekanan Global

Bukan sekadar warisan budaya, pembuatan perahu Pinisi kini terjepit krisis kayu dan modernisasi. Ini langkah penyelamatan dari para ahli.

Oleh Uno 03 Jul 2026 18:39 3 menit baca

Jalurdua.com BULUKUMBA — Tradisi pembuatan perahu Pinisi di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, berada di persimpangan jalan yang krusial. Warisan budaya maritim dunia ini tidak hanya menghadapi tekanan globalisasi dan perubahan iklim, tetapi juga dihantui oleh krisis nyata di lapangan: kelangkaan bahan baku kayu berkualitas.

Kondisi darurat ini mengemuka dalam forum Diseminasi Hasil Penelitian Thematic Research Group (TRG) Departemen Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hasanuddin (Unhas). Acara yang bekerja sama dengan Bapperida Kabupaten Bulukumba ini digelar di Ruang Kahayya, Gedung Pinisi, Rabu (1/7/2026).

Riset komprehensif tersebut melahirkan dua kajian utama, yakni "Tradisi di Persimpangan: Memahami Tantangan Pelestarian Pinisi di Bulukumba" dan "Kapasitas Adaptif Pinisi Tereduksi: Kapasitas Absorptif Asimetris dalam Industri Maritim Budaya". Keduanya membedah secara kritis mengapa ekosistem pembuatan perahu legendaris ini kian rapuh.

1. Kapasitas Adaptif Perajin Makin Tergerus


Pemaparan pertama disampaikan oleh Nuralamsyah Ismail, S.Sos., M.A. yang menyoroti kapasitas adaptif industri Pinisi dari sudut pandang organisasi. Menurut risetnya, para pelaku industri perahu tradisional saat ini dipaksa menghadapi rentetan tekanan berat yang datang bersamaan.

"Temuan kami mengindikasikan bahwa kapasitas adaptif para pelaku industri mengalami penurunan, terutama pada aspek kelembagaan, keberlanjutan sumber daya, dokumentasi pengetahuan tradisional, dan perencanaan jangka panjang," ujar Nuralamsyah.

Meskipun para perajin masih memiliki kemampuan berinovasi dan merespons pasar dengan relatif baik, proses adaptasi yang berlangsung selama ini cenderung bersifat reaktif. Belum ada pembelajaran kolektif yang terstruktur maupun penguatan kelembagaan yang kokoh untuk melindungi mereka dari gempuran era modern.

2. Empat Tantangan Utama Pelestarian Pinisi


Pada sesi berikutnya, Dr. Ishak Salim, S.IP., M.A. memaparkan tantangan pelestarian Pinisi dari perspektif jaringan aktor kebijakan. Berdasarkan data lapangan, ia mengidentifikasi empat akar masalah utama yang harus segera diintervensi oleh pemerintah daerah:

Komodifikasi Budaya: Risiko bergesernya nilai-nilai luhur pembuatan Pinisi demi mengejar keuntungan komersial semata.

Ketimpangan Relasi Kuasa: Posisi tawar para pembuat perahu lokal yang kerap melemah di hadapan pemodal besar atau aktor industri maritim.

Fragmentasi Jaringan: Belum padunya koordinasi antarlembaga dan pemangku kepentingan dalam menyusun strategi pelestarian.

Krisis Bahan Baku Kayu: Semakin terbatas dan mahalnya pasokan kayu berkualitas khusus yang menjadi fondasi kekuatan utama perahu Pinisi.

3. Mendesak Perlindungan untuk Panrita Lopi


Forum ini menjadi hidup karena tidak hanya menjadi menara gading akademik, tetapi juga melibatkan dialog multipihak secara langsung. Diskusi tersebut dihadiri oleh unsur pemerintah daerah, akademisi, penggiat pelestarian Pinisi seperti pakar maritim Horst Liebner, perwakilan Desa Ara dan Desa Bira, hingga para Panrita Lopi (ahli pembuat perahu).

Guna menjawab empat tantangan besar di atas, tim peneliti Unhas merumuskan sejumlah rekomendasi kebijakan yang mendesak, antara lain:

Pembentukan Asosiasi Pekerja Pinisi untuk melindungi hak-hak perajin.

Penyusunan Kontrak Kerja Standar yang mampu memayungi kesejahteraan pekerja tanpa merusak nilai-nilai adat.

Penguatan Tata Kelola Kayu yang Transparan demi menjamin ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan.

Dokumentasi Pengetahuan Lokal secara digital serta pengembangan pariwisata berbasis komunitas (community-based tourism).

Landasan Kebijakan Berbasis Bukti


Sekretaris Daerah Kabupaten Bulukumba, Muh. Ali Saleng, yang membuka acara ini bersama Ketua Bapperida Bulukumba, A. Irma Darmayanti, menyampaikan apresiasi mendalam atas kontribusi nyata para akademisi FISIP Unhas.

Pemerintah Kabupaten Bulukumba berkomitmen menjadikan hasil penelitian ini sebagai referensi penting dan basis bukti (evidence-based policy) dalam penyusunan kebijakan daerah ke depan.

Melalui diseminasi ini, FISIP Unhas dan Pemkab Bulukumba berharap hasil riset tidak berakhir sebagai tumpukan kertas laporan di perpustakaan. Harus ada langkah nyata dan kolaborasi konkret demi menjaga agar kepunahan tidak mendahului kejayaan Pinisi sebagai warisan dunia.***

Topik terkait
Wisata Bulukumba Perahu Tradisional Indonesia Pelestarian Budaya