Riset Terbaru: Tradisi Pembuatan Pinisi Hadapi Tekanan Global

Bukan sekadar warisan budaya, pembuatan perahu Pinisi kini terjepit krisis kayu dan modernisasi. Ini langkah penyelamatan dari para ahli.

Riset Terbaru: Tradisi Pembuatan Pinisi Hadapi Tekanan Global
Salah satu pemateri memaparkan hasil penelitian mengenai kapasitas adaptif industri Pinisi.(Foto: Dok, Humas)
Bacakan Artikel

Jalurdua.com BULUKUMBA — Tradisi pembuatan perahu Pinisi di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, berada di persimpangan jalan yang krusial. Warisan budaya maritim dunia ini tidak hanya menghadapi tekanan globalisasi dan perubahan iklim, tetapi juga dihantui oleh krisis nyata di lapangan: kelangkaan bahan baku kayu berkualitas.

Kondisi darurat ini mengemuka dalam forum Diseminasi Hasil Penelitian Thematic Research Group (TRG) Departemen Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hasanuddin (Unhas). Acara yang bekerja sama dengan Bapperida Kabupaten Bulukumba ini digelar di Ruang Kahayya, Gedung Pinisi, Rabu (1/7/2026).

Riset komprehensif tersebut melahirkan dua kajian utama, yakni "Tradisi di Persimpangan: Memahami Tantangan Pelestarian Pinisi di Bulukumba" dan "Kapasitas Adaptif Pinisi Tereduksi: Kapasitas Absorptif Asimetris dalam Industri Maritim Budaya". Keduanya membedah secara kritis mengapa ekosistem pembuatan perahu legendaris ini kian rapuh.

1. Kapasitas Adaptif Perajin Makin Tergerus


Pemaparan pertama disampaikan oleh Nuralamsyah Ismail, S.Sos., M.A. yang menyoroti kapasitas adaptif industri Pinisi dari sudut pandang organisasi. Menurut risetnya, para pelaku industri perahu tradisional saat ini dipaksa menghadapi rentetan tekanan berat yang datang bersamaan.

"Temuan kami mengindikasikan bahwa kapasitas adaptif para pelaku industri mengalami penurunan, terutama pada aspek kelembagaan, keberlanjutan sumber daya, dokumentasi pengetahuan tradisional, dan perencanaan jangka panjang," ujar Nuralamsyah.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: