News and Education Versi penuh
Edukasi

Pelatihan Membatik Shibori Makassar Siasati Kurang Stok Kain

Kendala stok kain justru bawa berkah. Siswa SRMP 23 ikuti pelatihan membatik Shibori Makassar secara langsung untuk tuntaskan pesanan sarung pantai.

Oleh Uno 07 Jun 2026 11:02 4 menit baca

Jalurdua.com MAKASSAR – Sebuah kendala logistik tak terduga justru berubah menjadi ruang kelas yang penuh inspirasi. Sebanyak 130 siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 23 Makassar awalnya hanya dijadwalkan untuk menerima kain batik jadi. Namun, akibat keterbatasan stok kain yang tersedia di perajin, para siswa justru terjun langsung mengikuti pelatihan membatik Shibori Makassar demi menyelesaikan sisa pesanan mereka sendiri.

Peristiwa unik ini bermula saat pihak sekolah memesan batik sarung pantai untuk seluruh siswa kepada Rumah Membatik Bunga Mawar, sebuah UMKM binaan Dekranasda Kabupaten Bulukumba. Dari total pesanan, sang perajin rupanya hanya mampu menyediakan 100 lembar kain siap pakai. Menghadapi situasi tersebut, sebuah ide kreatif lahir: sisa 30 lembar sarung pantai kekurangan dituntaskan langsung oleh tangan-tangan para siswa melalui lembaran kain putih yang mereka olah sendiri.

Langkah solutif ini diwujudkan dalam sebuah lokakarya intensif yang digelar di lingkungan SRMP 23 Makassar, kawasan Salodong, Kecamatan Untia, Kota Makassar, pada Jumat, 5 Juni 2026. Alih-alih kecewa karena pesanan yang tidak lengkap, suasana sekolah justru berubah semarak. Ruang pertemuan dipenuhi aroma lilin malam dan binar antusiasme dari anak-anak yang bersiap memegang canting serta melipat kain.

Mengubah Keterbatasan Menjadi Pengalaman Berharga


Owner Rumah Membatik Bunga Mawar, Andi Mawarwati, turun tangan langsung memandu proses kreatif ini. Didampingi dua instruktur berpengalaman, Herawati dan Nurlela, mereka membimbing para siswa dari tahap paling dasar. Pengalaman baru ini tidak hanya diikuti oleh para murid, tetapi juga memicu rasa penasaran para guru, wali asuh, dan wali asrama yang ikut mendampingi di lokasi.

“Alhamdulillah, siswa sangat antusias. Mereka tidak hanya mendapatkan produk jadi, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung membuat karya batik sendiri,” ujar Andi Mawarwati saat menjelaskan bagaimana ide pelatihan membatik Shibori Makassar ini pertama kali tercetus di tengah keterbatasan logistik.

Dengan penuh kesabaran, para instruktur mengajari anak-anak cara melipat, mengikat, hingga mencelupkan kain untuk menghasilkan motif Shibori yang presisi. Tidak kalah menantang, teknik batik tulis tradisional juga diperkenalkan. Jemari para siswa yang biasa memegang gawai, hari itu belajar mengendalikan canting dengan penuh konsentrasi agar lilin cair mengalir sempurna di atas kain.

Sentuhan Karakter di Setiap Helai Kain


Kegiatan yang berlangsung selama sehari penuh ini secara tidak langsung menjelma menjadi ruang pendidikan karakter. Lembar demi lembar kain putih polos perlahan mulai berubah warna, memancarkan perpaduan corak yang berani dan dinamis khas ekspresi jiwa muda. Melalui proses ini, para siswa belajar bahwa sepotong kain batik tidak lahir secara instan, melainkan butuh ketelitian yang tinggi.

Pihak sekolah menilai bahwa di balik kendala stok kain, ada hikmah besar yang didapatkan. Menatap lembaran kain yang berhasil mereka warnai sendiri menumbuhkan rasa bangga yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar menerima produk jadi. Ada rasa kepemilikan dan kedekatan emosional terhadap karya seni tradisi yang mereka buat dengan peluh sendiri.

Konsistensi Rumah Membatik Bunga Mawar dalam memberdayakan masyarakat terbukti tidak hanya berhenti di daerah asal mereka di Bulukumba. Melalui program dadakan ini, mereka berhasil memperluas dampak sosialnya hingga ke lingkungan pendidikan di ibu kota provinsi, mengenalkan produk lokal unggulan langsung ke jantung generasi z.

Aksi cepat tanggap yang komunikatif antara UMKM dan lembaga pendidikan ini mendapat apresiasi tinggi dari Ketua Dekranasda Kabupaten Bulukumba, Andi Herfida Muchtar. Ia menegaskan bahwa kehadiran perajin langsung di tengah lingkungan sekolah merupakan langkah strategis yang memiliki nilai edukasi yang sangat mendalam.

“Ini sangat menarik karena Rumah Membatik Bunga Mawar telah dikenal sebagai UMKM yang konsisten memberdayakan masyarakat lokal dalam pembuatan sarung pantai dan berbagai produk batik tulis. Kehadirannya di lingkungan sekolah menjadi bagian dari upaya menanamkan kecintaan terhadap budaya sekaligus memperkenalkan potensi produk unggulan daerah,” kata Andi Herfida menjelaskan dampak positif kegiatan tersebut.

Melalui pelatihan membatik Shibori Makassar ini, publik disuguhkan sebuah model pembelajaran yang adaptif. Ketika industri kreatif lokal mampu bersinergi dengan dunia pendidikan, keterbatasan teknis bukan lagi menjadi penghambat, melainkan gerbang awal bagi lahirnya generasi muda yang menghargai, mencintai, dan ikut menjaga keberlanjutan warisan budaya Nusantara.***

Topik terkait
Pelatihan membatik Shibori Makassar SRMP 23 Makassar Rumah Membatik Bunga Mawar