Tragis! Anak Bunuh Ayah di Bulukumba, Polisi Bergerak Cepat
Pembunuhan sadis di Bulukumba berhasil diungkap dalam 24 jam. Dua pelaku, termasuk anak korban, mengaku dendam. Simak kronologi lengkap dan fakta mengejutkan.
BULUKUMBA - Di sebuah gubuk sederhana di pesisir Bulukumba, tragedi kemanusiaan yang sulit dibayangkan terjadi dalam sunyi. ID (61), seorang warga yang dikenal sederhana, ditemukan tak bernyawa dengan kondisi mengenaskan. Di balik kematiannya, tersimpan kisah pilu tentang luka batin, dendam yang terpendam, dan hubungan keluarga yang retak.
Kasus pembunuhan Bulukumba ini bukan sekadar berita kriminal. Ini adalah potret nyata bagaimana konflik personal dapat berubah menjadi tragedi yang tak terelakkan.
Peristiwa ini bermula ketika korban dilaporkan tidak pulang selama tiga hari. Rasa cemas membawa anaknya, MF, mencari hingga ke gubuk tempat korban biasa beristirahat di pinggir laut.
Di sanalah kenyataan pahit ditemukan.
Tubuh korban tergeletak dengan luka gorok di leher, luka terbuka di perut, serta kondisi yang menunjukkan kekerasan ekstrem. Penemuan ini segera dilaporkan ke pihak kepolisian.
Menanggapi laporan tersebut, Satuan Reserse Kriminal Polres Bulukumba bergerak cepat. Olah tempat kejadian perkara dilakukan, dan jenazah korban langsung dievakuasi untuk keperluan visum dan autopsi.
Fakta Mengejutkan dari Lingkar Terdekat
Dalam waktu kurang dari 24 jam, penyelidikan mengarah pada dua sosok yang tak disangka: ML (72), tetangga korban, dan SS (35), anak kandung korban sendiri.
Kapolres Bulukumba menyampaikan secara tegas,
“Pelaku dalam kasus ini berjumlah dua orang, yakni ML (72) dan SS (35). SS merupakan anak kandung korban.”
Pengakuan ini membuka tabir kelam hubungan keluarga yang selama ini tersembunyi.
Rekonstruksi Waktu Kejadian
Perencanaan pembunuhan terjadi pada Sabtu malam, 28 Maret 2026, sekitar pukul 23.00 WITA di rumah salah satu pelaku.
Eksekusi dilakukan pada dini hari Minggu, 29 Maret 2026, di gubuk milik korban di pesisir laut Bulukumba.
Waktu yang sunyi itu dimanfaatkan pelaku saat korban sedang tertidur, membuat aksi keji tersebut berlangsung tanpa perlawanan.
Motif Dendam yang Mendalam
Motif pembunuhan ini berakar pada dendam.
ML diketahui memiliki konflik lama dengan korban. Sementara itu, SS menyimpan luka batin yang lebih dalam—merasa tidak diakui sebagai anak kandung.
Kapolres menegaskan,
“Motif keduanya adalah dendam, sehingga tega melakukan pembunuhan yang tergolong sadis dan keji.”
Ini menjadi pengingat bahwa konflik emosional yang tidak terselesaikan dapat berkembang menjadi tindakan ekstrem.
Bagaimana Aksi Keji Itu Dilakukan
Dalam kondisi korban tertidur, ML lebih dulu menggorok leher korban menggunakan parang. Setelah itu, SS melanjutkan dengan menusuk perut korban.
Tidak berhenti di situ, tindakan kekerasan berlanjut hingga usus korban dipotong dan dikeluarkan, lalu dimasukkan ke dalam jerigen di sekitar lokasi.
Detail ini menggambarkan tingkat kekerasan yang sangat tinggi, sekaligus memperkuat unsur perencanaan dalam kasus ini.
Pengungkapan Kurang dari 24 Jam
Kecepatan pengungkapan kasus ini menjadi sorotan tersendiri.
Hanya dalam waktu kurang dari sehari sejak penyelidikan dimulai, polisi berhasil:
Mengumpulkan bukti di TKP
Memeriksa empat saksi
Mendapatkan pengakuan pelaku
Menetapkan tersangka
Langkah cepat ini menunjukkan profesionalisme aparat dalam menangani kasus kriminal berat.
Luka yang Lebih Dalam dari Sekadar Kriminalitas
Kasus ini meninggalkan luka mendalam, bukan hanya bagi keluarga korban, tetapi juga masyarakat sekitar.
Pembunuhan yang melibatkan anak kandung mengguncang nilai-nilai sosial dan keluarga. Kepercayaan, rasa aman, dan ikatan darah menjadi dipertanyakan.
Ini menjadi refleksi penting tentang pentingnya komunikasi keluarga dan penyelesaian konflik secara sehat.
Kasus pembunuhan Bulukumba menjadi cerminan pahit bahwa konflik yang dipendam dapat berubah menjadi tragedi yang menghancurkan.
Di balik cepatnya pengungkapan, ada pelajaran besar tentang pentingnya menjaga hubungan, mengelola emosi, dan mencari jalan damai sebelum semuanya terlambat.*