News and Education Versi penuh
Peristiwa

Bahaya Spot Foto Tebing, Nyawa Siswi Melayang di Apparalang

Kasus korban tenggelam Pantai Apparalang diselidiki polisi. Tragedi siswi jatuh dari tebing picu urgensi standardisasi wisata pantai aman Bulukumba.

Oleh Uno 08 Jun 2026 19:04 4 menit baca

Jalurdua.com BULUKUMBA — Sebuah potret kegembiraan keluarga mendadak berubah menjadi petaka memilukan di atas tebing batu Pantai Apparalang, Desa Ara, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Elmi Febrianti, seorang siswi asal Lingkungan Bontobeang, Kelurahan Bontokamase, Kecamatan Herlang, kehilangan nyawanya setelah tergelincir dari papan kayu spot foto yang menjorok langsung ke lautan lepas pada Minggu, 7 Juni 2026 siang.

Insiden tragis ini memicu gelombang desakan publik mengenai pentingnya mewujudkan tata kelola wisata pantai aman Bulukumba. Terlebih, tren swafoto (selfie) di lokasi-lokasi ekstrem kerap kali mengabaikan standardisasi keselamatan dan manajemen risiko yang ketat.

Detik-Detik Tragedi di Ujung Tebing Apparalang


Sore itu, sekitar pukul 14.30 WITA, angin laut Pantai Apparalang berembus cukup kencang. Korban bersama salah seorang kerabatnya berjalan menyusuri area dermaga, mendekati salah satu anjungan foto favorit wisatawan. Sebuah papan kayu yang menjorok bebas di atas tebing batu dengan pemandangan langsung ke dalaman laut menjadi tujuan utama.

Korban kemudian melangkah ke atas papan kayu tersebut, bersiap mengambil pose terbaiknya. Sementara itu, saksi tetap bertahan di atas tebing yang lebih tinggi, memegang kamera untuk mengabadikan momen liburan tersebut. Namun, nasib nahas tak dapat ditolak. Korban diduga terpeleset dari pijakan kayu yang licin dan langsung jatuh terembas ke perairan di bawah tebing.

"Dari keterangan saksi, korban diduga terpeleset dan terjatuh ke laut saat berada di area spot foto yang berada di pinggir tebing kawasan wisata tersebut. Korban kemudian terseret arus dan dinyatakan hilang," ungkap Kasat Reskrim Polres Bulukumba, AKP Andi Imran Hamid, mewakili Kapolres Bulukumba AKBP Restu Wijayanto, S.I.K., pada Senin, 8 Juni 2026.

Lautan Apparalang yang terkenal dengan arus bawahnya yang kuat langsung menelan tubuh siswi tersebut. Tim SAR Gabungan yang terdiri dari Basarnas, BPBD, Personel Polres Bulukumba, TNI, pemerintah setempat, hingga relawan segera dikerahkan ke lokasi. Mereka melakukan penyisiran menggunakan perahu karet di bawah kegelapan malam.

Setelah pencarian intensif selama hampir sepuluh jam, jasad korban akhirnya ditemukan mengapung pada Senin dini hari pukul 00.10 WITA. Tubuh Elmi yang sudah tidak bernyawa ditemukan sejauh 1,5 kilometer dari titik awal dirinya terjatuh. Isak tangis keluarga pecah saat jenazah dievakuasi dan langsung diserahkan untuk proses pemakaman.

Ancaman Nyata di Balik Estetika Destinasi Wisata


Tragedi yang menimpa Elmi Febrianti membuka mata banyak pihak tentang adanya bahaya spot foto tebing yang dibangun tanpa sertifikasi kelaikan yang jelas. Fenomena "wisata instagenic" memaksa banyak pengelola lokal berlomba-lomba mendirikan anjungan buatan di lokasi-lokasi rawan seperti tepi jurang, atas pohon, atau tebing pantai demi menarik kunjungan wisatawan.

Sayangnya, keindahan visual yang ditawarkan sering kali tidak berjalan beriringan dengan penyediaan infrastruktur keselamatan. Penggunaan material kayu yang rentan lapuk akibat cuaca ekstrem, absennya pagar pengaman (railing) yang memadai, serta ketiadaan petugas pengawas khusus di area berisiko menjadi rapor merah yang harus segera dibenahi.

Polres Bulukumba memastikan tidak akan tinggal diam melihat peristiwa ini. Pihak kepolisian menegaskan akan melakukan penyelidikan menyeluruh untuk membidik adanya unsur kelalaian pengelola dalam menyediakan fasilitas publik yang aman.

"Penyelidikan ini dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat unsur pidana atau kelalaian dalam peristiwa tersebut. Kami akan bekerja secara profesional, transparan, dan berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan di lapangan," tegas AKP Andi Imran Hamid.

Polisi saat ini sedang menunggu laporan resmi dari pihak keluarga korban sebagai dasar hukum pergerakan tim penyidik. Setelah laporan formal diterima, serangkaian pemeriksaan saksi-saksi dan pemanggilan pihak pengelola objek wisata Pantai Apparalang akan segera dijadwalkan secara maraton.

Urgensi Audit Total dan Standardisasi Kelaikan Wahana


Penyelidikan hukum atas kasus korban tenggelam Pantai Apparalang ini harus menjadi momentum titik balik bagi industri pariwisata di Sulawesi Selatan. Pemerintah daerah bersama Dinas Pariwisata tidak boleh lagi menoleransi pengoperasian wahana atau spot swafoto yang mengabaikan aspek mitigasi bencana.

Standardisasi berbasis Cleanliness, Health, Safety, and Environment Sustainability (CHSE) wajib diterapkan secara kaku, bukan sekadar pemanis dokumen regulasi. Setiap spot foto di area berisiko tinggi harus memiliki batas beban maksimal penampung orang, dilapisi material antiselip, dan dilengkapi pelampung darurat di sekitarnya.

Lebih jauh, kesadaran dari para pelancong juga memegang peranan krusial. Keinginan berburu konten estetis di media sosial tidak boleh melumpuhkan akal sehat dan kewaspadaan terhadap keselamatan diri sendiri.

Menutup keterangannya, Polres Bulukumba mengimbau dengan keras kepada seluruh masyarakat yang berkunjung ke objek wisata alam. Terutama kawasan pantai, tebing, dan spot foto berisiko tinggi, agar senantiasa mengutamakan keselamatan, mematuhi aturan tertulis, dan membaca kondisi alam sekitar dengan cermat guna mencegah terulangnya petaka serupa di masa depan.***

Topik terkait
wisata pantai aman Bulukumba bahaya spot foto tebing kecelakaan wisata Bulukumba