Roti, Sirkus, dan DPR: Mengulang Kesalahan Romawi Kuno

Di awal abad pertama Masehi, ketika Kekaisaran Romawi berada di puncak kejayaannya, seorang penyair dan filsuf bernama Juvenal menulis sindiran yang legendaris: panem et circenses — “roti dan sirkus....

Roti, Sirkus, dan DPR: Mengulang Kesalahan Romawi Kuno
Bacakan Artikel

Sementara rakyat harus membayar pajak, iuran Tapera, listrik yang naik, dan harga beras yang tak kunjung turun — para “senator modern” kita justru memperdebatkan hak-hak kenyamanan mereka sendiri. Sebagaimana di zaman Romawi, jurang antara rakyat dan elit semakin lebar.


Demokrasi atau Oligarki?

Plato pernah memperingatkan: demokrasi yang dibiarkan liar akan jatuh menjadi oligarki — kekuasaan segelintir orang kaya yang hanya mengurus kepentingan dirinya sendiri. Romawi pun mengalaminya: dari republik rakyat menjadi kekaisaran aristokrat.

Kini, kita pun harus bertanya jujur: apakah demokrasi kita benar-benar hidup untuk rakyat? Ataukah sudah berubah menjadi sirkus modern, di mana rakyat hanya penonton dan penguasa adalah aktor yang mengatur naskahnya sendiri?

Panem et circenses bukan hanya sejarah, ia adalah peringatan. Setiap kali penguasa lebih sibuk menjaga kenyamanan dirinya daripada mendengar jeritan rakyat, sejarah selalu menulis akhir yang sama: keruntuhan.


Penutup: Belajar dari Romawi, Bukan Mengulangnya

Romawi jatuh bukan karena miskin, tapi karena lupa diri. Mereka melupakan rakyat, menertawakan keadilan, dan menyembah kemewahan. Indonesia masih punya kesempatan untuk tidak mengulangnya — tapi hanya jika para wakil rakyat sadar bahwa mandat bukan untuk menambah tunjangan, melainkan untuk menunaikan amanah.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: