Roti, Sirkus, dan DPR: Mengulang Kesalahan Romawi Kuno

Di awal abad pertama Masehi, ketika Kekaisaran Romawi berada di puncak kejayaannya, seorang penyair dan filsuf bernama Juvenal menulis sindiran yang legendaris: panem et circenses — “roti dan sirkus....

Roti, Sirkus, dan DPR: Mengulang Kesalahan Romawi Kuno
Bacakan Artikel

JALURDUA Di awal abad pertama Masehi, ketika Kekaisaran Romawi berada di puncak kejayaannya, seorang penyair dan filsuf bernama Juvenal menulis sindiran yang legendaris: panem et circenses — “roti dan sirkus.”

Kalimat itu bukan sekadar olok-olok. Ia adalah tamparan keras bagi para penguasa Romawi yang kala itu mulai meninggalkan tugas mulia mereka sebagai penjaga republik dan malah sibuk menenangkan rakyat dengan dua hal: roti (sedikit pangan gratis), dan sirkus (hiburan massal). Sementara rakyat dibius oleh pesta dan tontonan, para senator dan bangsawan hidup mewah, mengumpulkan kekayaan dari pajak rakyat dan penjarahan wilayah jajahan.

Juvenal melihat dengan jelas: rakyat tidak lagi dipandang sebagai subjek kekuasaan, melainkan objek yang cukup dijaga perutnya dan dialihkan perhatiannya. Rakyat tidak diminta berpikir, hanya diminta diam. Asal kenyang dan terhibur, penguasa bebas berbuat apa saja.


Cermin untuk Indonesia Hari Ini

Dua ribu tahun kemudian, kita seolah sedang menonton ulang babak yang sama — hanya panggungnya yang berganti. Bukan di Colosseum, tapi di Senayan. Bukan dengan gladiator dan singa, tapi dengan drama politik dan janji-janji pembangunan. Dan tentu saja, bukan hanya “roti dan sirkus”, tapi juga “bansos dan baliho”.

Rakyat hari ini diberi janji demi janji: pembangunan infrastruktur, bantuan sosial, subsidi. Tapi di balik layar, para wakil rakyat justru sibuk memperbesar tunjangan, mengamankan gaji fantastis hingga mendekati Rp 70–100 juta per bulan. Mereka berdalih “bukan gaji yang naik, hanya tunjangan”. Tapi bukankah itu tetap uang dari keringat rakyat?

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: