Jelang 70 Tahun Diplomasi: Indonesia-Jepang Kian Solid

Dubes RI Kartina Sjahrir tegaskan peran JAPINDA dalam memperkuat hubungan diplomatik Indonesia-Jepang jelang 70 tahun kemitraan strategis di resepsi Tokyo 2026.

Jelang 70 Tahun Diplomasi: Indonesia-Jepang Kian Solid
Foto: Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Jepang dan Federasi Mikronesia Nurmala Kartina Sjahrir dalam sebuah acara resepsi yang digelar JAPINDA di Tokyo, pada Kamis 9 April 2026/kemlu.go.id/
Bacakan Artikel

JALURDUA TOKYO – Di sebuah ruangan yang dipenuhi lebih dari 200 petinggi korporasi Negeri Sakura, Duta Besar RI untuk Jepang, Nurmala Kartina Sjahrir, berdiri tegak menyuarakan optimisme. Di tengah suasana resepsi yang hangat namun formal di Tokyo, Kamis (9/4/2026), Kartina menegaskan bahwa hubungan diplomatik Indonesia-Jepang bukan sekadar urusan angka perdagangan, melainkan sebuah ikatan yang dibangun di atas fondasi rasa saling percaya yang telah teruji waktu.

Indonesia sangat menghargai kerja sama jangka panjang dengan Jepang yang secara konsisten dibangun di atas rasa saling percaya, rasa hormat, dan kemakmuran bersama,” ujar Dubes Kartina di hadapan anggota Japan-Indonesia Association (JAPINDA). Pernyataan ini menjadi pembuka yang kuat, menandai babak baru kemitraan kedua negara yang kini tengah bersiap menyambut tujuh dekade persahabatan pada 2028 mendatang.

JAPINDA sebagai Jembatan Strategis Sektor Swasta
Dalam dinamika ekonomi global yang kian kompleks, peran lembaga seperti JAPINDA menjadi sangat krusial. Dubes Kartina menyoroti bahwa asosiasi ini bukan sekadar wadah berkumpulnya para pengusaha, melainkan jembatan strategis yang menghubungkan kepentingan sektor swasta dengan kebijakan pemerintah. JAPINDA dianggap sukses memfasilitasi dialog kebijakan yang selama ini sering kali menemui jalan terjal jika dilakukan secara birokratis.

“JAPINDA memainkan peran strategis tidak hanya sebagai jembatan kerja sama dalam membina kemitraan bisnis, tetapi juga penghubung antara sektor swasta dan pemerintah,” tegas Kartina. Kehadiran tokoh-tokoh penting seperti Toshiaki Kitamura, Kojiro Shiojiri, hingga anggota parlemen Jepang Tatsuo Fukuda dan Arata Takebe dalam acara tersebut menunjukkan betapa strategisnya posisi Indonesia di mata pengambil kebijakan Jepang.

Kolaborasi ini tidak lagi hanya berkutat pada sektor manufaktur tradisional. Ada pergeseran narasi yang lebih humanis dan berorientasi masa depan. Fokus utama kini mulai merambah pada pengembangan sumber daya manusia (SDM), sebuah sektor yang menjadi tulang punggung bagi visi Indonesia Emas dan solusi bagi tantangan demografi Jepang.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: