WNI di Malaysia Diimbau Ikut Repatriasi Migran Sebelum Berakhir
Hanya sampai 30 April 2026! Ikuti Program Repatriasi Migran 2.0 Malaysia. Pulang ke Indonesia lebih murah, tanpa denda jutaan & bebas hukum. Cek syaratnya di sini.
JALURDUA Kuala Lumpur – Waktu terus berdetak bagi ribuan Warga Negara Indonesia (WNI) di Malaysia yang terjebak dalam status tanpa izin. Di tengah hiruk-pikuk pusat kota Kuala Lumpur yang lembap, kabar dari Jalan Tun Razak, markas besar KBRI membawa angin segar sekaligus peringatan keras: Program Repatriasi Migran 2.0 akan resmi ditutup pada 30 April 2026. Jika melampaui tenggat tersebut, impian untuk pulang tanpa bayang-bayang jeruji besi dan denda belasan juta rupiah bisa seketika sirna.
Duta Besar RI untuk Malaysia, Raden Dato' Mohammad Iman Hascarya Kusumo, menegaskan bahwa inisiatif Departemen Imigrasi Malaysia yang telah berjalan sejak Mei tahun lalu ini adalah "pintu darurat" paling aman. Melalui program ini, para Pendatang Asing Tanpa Izin (PATI) asal Indonesia dapat kembali ke pelukan keluarga tanpa harus melewati drama persidangan atau dakwaan hukum yang melelahkan.
Kepastian Hukum di Balik Selembar 'Check Out Memo'
Bagi banyak pekerja migran, ketakutan terbesar saat melangkah ke kantor imigrasi adalah borgol dan deportasi paksa. Namun, skema Repatriasi Migran 2.0 menawarkan sesuatu yang berbeda: kemanusiaan yang terukur secara administratif. Setiap pemohon yang mendaftar akan mengantongi Check Out Memo (COM), sebuah dokumen sakti yang menjamin keberangkatan mereka di bandara atau pelabuhan tetap mulus dan bebas dari jeratan hukum.
- Kurdiansyah Anggoro Pantau Pesanan Pinisi Surya Paloh
- Pengrajin Pinisi Bulukumba Tembus Pasar Dunia
- BPS Canangkan Desa Cantik Rilau Ale, Ubah Desa Jadi Subjek Data
- Apdesi Merah Putih Deklarasi Desa Bersinar di Bulukumba
- Pemkab Bulukumba Perkuat Tata Kelola Data Berbasis Spasial
- Jelang 70 Tahun Diplomasi: Indonesia-Jepang Kian Solid
- WNI di Malaysia Diimbau Ikut Repatriasi Migran Sebelum Berakhir
- Krisis Iklim Mengintai, Indonesia Perkuat Aliansi Kehutanan Global
- Iran yang Terlalu Baik atau Indonesia yang Terlalu Tidak Tahu Diri?
- Ayah, ‘Bentar ya’, dan Tragedi yang Terlambat Disadari